koran jakarta. Fokus M Tjiptardjo pasca terpilih menjadi direktur jenderal Pajak Departemen Keuangan adalah menggenjot penerimaan pajak. Salah satu area perhatiannya adalah intensifikasi pajak, termasuk memburu para penunggak pajak.
“Memburu pengemplang pajak merupakan bagian dari intensifikasi. Kalau ada datanya, akan kami buru,” tegas Tjiptardjo usai pelantikannya di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (28/7).
Upaya perburuan penunggak pajak, kata Tijptardjo, sudah didesain. “Pokoknya ada penegakan hukum yang paling keras, itu saja,” kata Tjiptardjo. Salah satu penunggak pajak yang sedang dalam proses hukum adalah Asian Agri. “Dari 14 anak perusahaan, 12 perusahaan sudah menjadi tersangka,” kata dia.
Saat ini, penerimaan pajak memang belum sesuai dengan target. Sampai semester I, realisasi penerimaan pajak adalah 43 persen dari total target 587 triliun rupiah. “Kami diberi tugas untuk mencapai penerimaan 44 persen pada semester I, tetapi realisasi 43 persen. Jadi kurang satu persen,” papar Tjiptardjo.
Meskipun demikian, lanjut Tjiptardjo, Ditjen Pajak optimistis target 587 triliun rupiah dapat tercapai. ” Saya akan mengambil langkah pengamanan penerimaan. Masih ada lima bulan tersisa pada 2009, kami akan upayakan sekuat tenaga untuk mencapai target. Kami optimistis, artinya harus kerja keras,” tegas Tjiptardjo.
Program yang akan dikedepankan untuk menggenjot penerimaan, tambah Tjiptardjo, adalah ektensifkasi dan intensifikasi. “Ektensifikasi dilakukan dengan menambah jumlah WP (Wajib Pajak) dalam jangka panjang. Selain itu, kami juga akan melakukan intensifikasi WP,” kata dia.
Ekonom Dradjad Hari Wibowo mengatakan, penunjukkan figur internal seperti Tjiptardjo akan memberikan kepercayaan terhadap birokrasi Ditjen Pajak. Tjiptardjo dikenal memiliki komitmen yang cukup tinggi terhadap reformasi birokrasi. “Ada harapan Ditjen Pajak akan menjadi organisasi yang lebih baik di masa mendatang. Ini penting karena penerimaan pajak terkena imbas pelemahan ekonomi global,” kata anggota Komisi XI DPR ini.
Asian Agri
Dengan latar belakang jabatan Tijptardjo sebelumnya (direktur Intelijen dan Penyelidikan Pajak), kata Dradjad, sinkronisasi antara intelijen pajak dan aspek hukum harus lebih diperkuat di masa depan. “Hal ini penting, agar kasus seperti Asian Agri yang terkatung-katung selama bertahun-tahun tidak terulang lagi. Ini tidak sehat bagi kinerja Ditjen Pajak,” tegas dia.
Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar mengatakan, Tjiptardjo harus meneruskan rekam jejaknya yang baik. “Apalagi ketika menjabat sebagai direktur Intelijen dan Penyelidikan Pajak, dia berhasil membongkar kasus Asian Agri,” kata dia.
Berdasarkan catatan tersebut, lanjut Harry, Tjiptardjo diharapkan mampu lebih ekstensif dalam menanggulangi penyimpangan pajak. “Dia diharapkan mampu menbongkar pihak-pihak yang menghindari pajak, melakukan transfer pricing, dan sebagainya,” ujar dia.
Akan tetapi, tambah Harry, Tjiptardjo harus mampu membuat perencanaan yang lebih baik. “Pada 2009, target penerimaan pajak direvisi beberapa kali. Oleh karena itu, kami berharap Tjiptardjo mampu menyusun perencanaan yang lebih baik,” tegas dia.
Tantangan dalam kepemimpinan Tjiptadjo, menurut Harry, adalah menggenjot penerimaan pajak. Optimalisasi penerimaan pajak tidak cukup hanya dengan menambah jumlah wajib pajak. “Apa gunanya kalau wajib pajak bertambah tetapi penerimaan tidak naik? Hanya menambah cost saja kan?” kata dia.
Menteri Keuangan/Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Tjiptardjo mungkin akan mengalami kesulitan dalam menerapkan promosi, mutasi, dan rotasi jabatan internal. Sebab dia figur internal Ditjen Pajak. “Pak Darmin (Nasution) merupakan figur dari luar Ditjen Pajak, sehingga tidak ada beban dalam menerapkan promosi, mutasi, dan rotasi. Namun, Pak Tjiptardjo tumbuh di Ditjen Pajak, sehingga perkawanan akan lebih terasa,” papar Sri Mulyani.
Akan tetapi, lanjut Sri Mulyani, faktor tersebut seharusnya tidak membebani Tjiptardjo. Dia harus tegas dalam menerapkan penghargaan dan sanksi (reward and penalty). “Pimpinan dalam kultur Indonesia selalu dijadikan contoh. Kepemimpinan harus bisa memberikan reward and penalty. Harus disiplin dan tega,” tegas Sri Mulyani.